Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry. Lorem Ipsum has been the industry's standard dummy text ever since the 1500s, when an unknown printer took a galley of type and scrambled it to make a type specimen book. It has survived not only five centuries, but also the leap into electronic typesetting, remaining essentially unchanged. It was popularised in the 1960s with the release of Letraset sheets containing Lorem Ipsum passages, and more recently with desktop publishing software like Aldus PageMaker including versions of Lorem Ipsum.

Jumat, 30 Maret 2012

teori belajar kognitivistik

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Belajar seharusnya menjadi kegiatan yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Belajar merupakan salah satu kebutuhan hidup manusia yang paling penting dalam upaya mempertahankan hidup dan mengembangkan diri. Dalam dunia pendidikan belajar merupakan aktivitas pokok dalam penyelenggaraan proses belajar-mengajar. Melalui belajar seseorang dapat memahami sesuatu konsep yang baru, dan atau mengalami perubahan tingkah laku, sikap, dan ketrampilan.

Menurut Herman Hudoyo “Belajar merupakan suatu proses aktif dalam memperoleh pengalaman, pengetahuan baru, sehingga menyebabkan perubahan tingkah laku. Misalnya setelah belajar siswa mampu mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilan dimana sebelumnya ia tidak dapat melakukannya”. Menurut Oemar Hamalik “Belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan”. Belajar memegang peranan penting didalam perkembangan, kebiasaan, sikap, keyakinan, tujuan, kepribadian dan bahkan persepsi manusia.
Banyak teori belajar yang menginspirasi dan mendasari lahirnya macam-macam strategi pembelajaran yang memuat classical interactionseperti teori behaviorisme, teori kognitivisme, dan teori konstruktivisme. Dilihat dari diterapkannya strategi dan metode pengajaran yang ilmiah, yang mendasarkan pada pemahaman tentang teori-teori pembelajaran dan pertimbangan pendekatan belajar siswa (student learning approach). Pemahaman tentang pengajaran (teaching) juga berkembang, dari teacher centered, yang lebih menekankan pada content oriented, menjadi student centered yang lebih berorientasi pada memfasilitasi terjadinya kegiatan belajar (learning oriented).

1.2. Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian dari teori kognitivistik?
2. Siapa saja tokoh teori belajar Kognitivistik?
3. Bagaimana sistem pembelajaran teori kognitivistik?
4. Bagaimana pandangan Teori Kognitivistik terhadap Belajar Mengajar dan Pembelajaran?

1.3. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari teori kognitivistik.
2. Mengetahui tokoh teori belajar kognitivistik.
3. Memahami sistem pembelajaran teori kognitivistik.
4. Bagaimana pandangan Teori Kognitivistik terhadap Belajar Mengajar dan Pembelajaran?











BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Teori Kognitivistik
Istilah “Cognitive” berasal dari kata cognition artinya adalah pengertian, mengerti. Pengertian yang luasnya cognition (kognisi) adalah perolehan, penataan, dan penggunaan pengetahuan. Dalam pekembangan selanjutnya, kemudian istilah kognitif ini menjadi populer sebagai salah satu wilayah psikologi manusia / satu konsep umum yang mencakup semua bentuk pengenalan yang meliputi setiap perilaku mental yang berhubungan dengan masalah pemahaman, memperhatikan, memberikan, menyangka, pertimbangan, pengolahan informasi, pemecahan masalah, pertimbangan, membayangkan, memperkirakan, berpikir dan keyakinan. Termasuk kejiwaan yang berpusat di otak ini juga berhubungan dengan konasi (kehendak) dan afeksi (perasaan) yang bertalian dengan rasa. Menurut para ahli jiwa aliran kognitifis, tingkah laku seseorang itu senantiasa didasarkan pada kognisi, yaitu tindakan mengenal atau memikirkan situasi dimana tingkah laku itu terjadi.

Istilah kognitif sendiri banyak dipopularkan oleh piaget dengan teori perkembangan kognitifnya, yang sebenarnya telah dikembangkan oleh Wilhelm Wundut (Bapak Psikologi). Menurut Wundut kognitif adalah sebuah proses aktif dan kreatif yang bertujuan membangun struktur melalui pengalaman-pengalaman. Wundut percaya bahwa pikiran adalah hasil kreasi para siswa yang aktif dan kreatif yang kemudian disimpang di dalam memori
Teori belajar kognitif lebih mementingkan proses belajar daripada hasil belajar itu sendiri. Belajar tidak sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respon, lebih dari itu belajar melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks. Belajar adalah perubahan persepsi dan pemahaman. Perubahan persepsi dan pemahaman tidak selalu berbentuk perubahan tingkah laku yang bisa diamati.

2.2. Tokoh-tokoh Teori Belajar Kognitivistik
2.2.1. Jean Piaget “perkembangan Kognitif”
Salah satu cara mengidentifikasi seorang teuritisi adalah dengan melihat variabel perantara yang dipostulasikan. Piaget menggunakan skema sebagai variabel perantara favoritnya. Skemata lebih umum sifatnya daipad kognisi yang kita bahas sejauh ini. Skemata adalah cara mempersepsi, memahami, dan berpikir tentang dunia. Skemata mencakup beberap jenis antisipasi , terkait dengan cara berlangsungnya suatu peristiwa pada umunya. Pembentukan dan perubahan skemata ini menjadi hakikat perkembangan kognitif.
Tentu saja, seorang anak mamiliki skemata yang relevan dengan bermacam-macam jenis topic, dan jumlahnya semakin banyak ketika anak mendekati masa dewasa. Piaget terutama tertarik dengan skemata-skemata yang terkait dengan dunia fisik. Bagaimana seorang anak memahami hubungan ukuran, bobot, kausalitas? Bagaimana anak berpikir tentang perubahan fisik, tentang hal-hal yang konstan dan hal-hal yang berubah, tentang sumber-sumber tindakan dan hakikat benda hidup dan benda mati?
Skemata bisa berubah dan perubahan seperti itu penting artinya dalam perkembangan kognitif. Proses berubahnya skemata disebut akomodasi. Ketika seorang anak atau siapa saja, memiliki pengalaman yang tidak konsisten dengan suatu skema, maka skema tersebut cenderung berubah untuk mengakomodasi input baru ini. Sebagai contoh, lumrah bagi anak-anak sekitar usia 6 tahun untuk menjalankan skema bahwa benda yang bobotnya ringan akan mengapung dan benda yang bobotnya berat akan tenggelam. Ketika mereka diminta untuk membuat prediksi terhadap kayu dan logam, mereka menunjuk bahwa bahwa sebuah balok kayu yang besar (dan bobotnya yang berat) akan tenggelam, sementara sebatng logam kecil akan mengapung. Namum demikian ketika mereka berulang-ulang melihat prediksi mereka terbukti keliru, skema mereka menjadi semakin sulit dipertahankan. Secara bertahap mereka pun mulai meraba-raba skema baru yang lebih memadai. Untuk sementara mereka mungkin sampai pada skemata spesifik seperti bahwa kayu mengapung, sementara logam dan batu tenggelam. Pada akhirnya mereka sampai pada suatu skema baru yang bersifat sederhana dan umum seperti skema lainnya.
Proses akomodasi yang digunakan anak-anak untuk memperbaiki skemata mirip dengan yang digunakan oleh para ilmuwan untuk memperbaiki skemata mereka mirip dengan yang digunakan oleh para ilmuwan untuk memperbaiki skemata teknis mereka. Dan memang, persoalan mengenai bagaiman membedakan secara konsisiten antara benda yang mengapung dan tenggelam pada masanya dulu juga merupakan persoalan para ilmuwan sebagaimana halnya sekarang menjadi persoalan anak-anak.
Penekanan pada proses akomodasi mungkin membuat kita membayangkan bahwa skemata bersifat tidak stabil, senantiasa berubah oleh adanya input-input baru. Akan tetapi yang berlaku sebenarnya adalah sebaliknya; skemata cenderung stabil. Seorang anak cenderung untuk mempertahankan skema lamanya sebagai respon atas satu atau dua input yang membuktikan kekeliruan skemanya itu.
Menurut Suhaidi Jean Piaget mengklasifikasikan perkembangan kognitif anak menjadi empat tahap:
Tahapan pertama disebut sensori motor. Tahapan ini berlangsung sejak lahir sampai usia 2 tahun. Selama periode ini anak membentuk konsepsi-konsepsi paling dasar mengenai hakikat dunia material. Ia pembelajaran bahwa sebuah objek yang menghilang bisa muncul kembali. Ia pembelajaran bahwa objek tertentu adalah objek yang sama meskipun terlihat lain sekali ketika dipandang dari sudut yang berbeda atau dalam terang cahaya yang berbeda. Ia menemukan bagaimana tindakannya bisa mempengaruhi objek-objek dan memperoleh pemahaman paling dasar mengenai sebab akibat. Dengan demikian dunianya pun semakin ia pahami sebagai suatu susunan rapi yang terdiri atas benda-benda yang bersifat permanen.
Tahapan kedua adalah tahapan praoperasional. Berlangsung dari usia 2 tahun sampai 7 tahun. Pada tahapan ini anak mulai memperlihatkan efek yang dihasilkan dari pembelajaran bahasa. Ia mampu mempersentasikan benda dan kejadian secara simbolis ; ia bukan hanya berbuat sesuatu pada mereka. Anak memiliki representasi internal mengenai benda-benda sebelum ia memiliki kata-kata untuk mengungkapkannya. Representasi internal ini membuat anak lebih fleksibel dalam menghadapi dunia secara adaptif, dan dengan melekatkan kata-kata pada benda itu membuat ia memiliki kekuatan yang lebih besar melalui komunikasi.
Tahapan ketiga adalah operasi konkret, yang berlangsung dari sekitar usia 7 sampai 11 tahun. Tahapan ini menunjukkan adanya peningkatan fleksibilitas yang melebihi tahapan praoperasional. Jenis-jenis yang terkandung dalam tahapan ini menvakup upaya mengklasifikasi, mengkombinasi, dan membandingkan. Anak dalam tahapan operaso konret bisa menangkap hubungan yang ada di antara hierarki-hierarki istilah, seperti bangau, burung, dan makhluk hidup. Tidal seperti anak praoperasional, ia tahu bahwa operasi-operasi bisa mengalami pembalikan urutan. Apa yang di tambah, bisa dikurangi, dan materi tertentu yang telah berubah bentuknya bisa dipulihkan ke bentuk semula. Seorang anak pada tahapan ini tidak akan membuat kekeliruan seperti yang dibuat oleh anak praoperasional yang mungkin berkata: “ Aku pumya saudara, tapi dia tidak punya saudara”! sebagaimana halnya tahapan praoperasional bisa dikaitkan dengan awal tumbuhnya bahasa, begitu pula tahapan operasi konret bisa dikaitkan dengan permulaan sekolah.
Tahapan keempat dan terakhir adalah operasi formal, yang berawal dari sekitar usia 11 tahun berupa peningkatan cara berpikir abstrak yang berlangsung hingga sekitar usia 16 tahun. Pada tahapan ini kapasitas anak untuk melakukan manipulasi simbolis mencapai puncaknya. Meski anak-anak pada tahapan sebelumnya sudah mampu malakukan sejumlah operasi logika, mereka melakukannya dalam konteks situasi konret. Sekarang orang tersebut bisa memandang persoalan-persoalan secara abstrak. Ia bisa menilai validitas silogisme menurut struktur formalnya, terlepas dari isinya. Ia bisa mengeksplorasi berbagai macam cara untuk merumuskan suatu masalah dan melihat apa konsekuensi logisnya. Ia siap berpikir menurut proposisi-proposisi abstrak yang sesuai dengan dunia nyata yang ia amati.
Ketika anak melewati satu tahapan ke tahapan lainnya, skematanya mengalami perubahan dengan mengakomodasi pengalaman-pengalaman baru. Pada masing-masing tahapan ia berusaha untuk mengasimilasikan pengalaman-pengalaman baru itu ke dalam skematanya yang sudah ada, namun seringkali ia menemukan kesenjangan. Suatu kesenjangan miungkin akan membuat ia bingung, namun serangkaian kesenjangan akan secara bertahap menghasilkan akomodasi dan mengubah skema yang relevan menuju tahapan berikutnya.
2.2.2. Teori Jerome Bruner “Discovery Learning”
Dasar dari teori Bruner adalah ungkapan Piaget yang menyatakan bahwa anak harus berperan secara aktif belajar di kelas. Konsepnya adalah belajar dengan menemukan (discovery learning), siswa mengorganisasikan bahan pelajaran yang dipelajarinya dengan suatu bentuk akhir yang sesuai dengan tingkat kemajuan berpikir anak. Pendidikan pada hakikatnya merupakan proses penemuan personal (personal discovery) oleh setiap individu murid. Inilah tema pokok teori Bruner.
Guru harus memberikan keleluasaan kepada siswa untuk menjadi pemecah masalah (problem solver). Biarkan siswa menemukan arti hidup bagi dirinya sendiri dan memungkinkan mereka mempelajari konsep-konsep di dalam bahasa mereka sendiri. Siswa di dorong dan disemangati untuk belajar sendiri melalui kegiatan dan pengalaman. Peran guru terutama untuk menjamin agar kegiatan belajar menimbulkan rasa ingin tahu (kuriositas) siswa, meminimalkan resiko kegagalan belajar dan agar belajar relevan dengan kebutuhan siswa.
Bruner meyakini bahwa pembelajaran tersebut bisa muncul dalam tiga cara atau bentuk, yaitu: enaktif, ikonik dan simbolik.
Pembelajaran enaktif mengandung sebuah kesamaan dengan kecerdasan inderawi dalam teori Piaget. Pengetahuan enaktif adalah mempelajari sesuatu dengan memanipulasi objek – melakukan pengatahuan tersebut daripada hanya memahaminya. Anak-anak didik sangat mungkin paham bagaimana cara melakukan lompat tali (‘melakukan’ kecakapan tersebut), namun tidak terlalu paham bagaimana menggambarkan aktifitas tersebut dalam kata-kata, bahkan ketika mereka harus menggambarkan dalam pikiran.
Pembelajaran ikonik merupakan pembelajaran yang melalui gambaran; dalam bentuk ini, anak-anak mempresentasikan pengetahuan melalui sebuah gambar dalam benak mereka. Anak-anak sangat mungkin mampu menciptakan gambaran tentang pohon mangga dikebun dalam benak mereka, meskipun mereka masih kesulitan untuk menjelaskan dalam kata-kata.
Pembelajaran simbolik, ini merupakan pembelajaran yang dilakukan melalui representasi pengalaman abstrak (seperti bahasa) yang sama sekali tidak memiliki kesamaan fisik dengan pengalaman tersebut. Sebagaimana namanya, membutuhkan pengetahuan yang abstrak, dan karena simbolik pembelajaran yang satu ini serupa dengan operasional formal dalam proses berpikir dalam teori Piaget.
Tujuan pokok pendidikan menurut Bruner adalah guru harus memandu para siswanya sehingga mereka dapat membangun basis pengetahuannya sendiri dan bukan karena diajari melalui memorisasi hafalan (rote memorization). Informasi-informasi baru dipahami siswa dengan cara mengklasifikasinya berlandaskan pengetahuan terdahulu yang telah dimilikinya.



2.2.3. Teori David P. Ausubel
Dalam teorinya Ausubel mengemukakan bahwa teorinya itu terkait dengan sifat-sifat makna, dan ia percaya bahwa dunia luar (external world) akan memberikan makna terhadap pembelajaran, hanya jika berbagai konsep yang berasal dari dunia luar itu telah mampu diubah menjadi kerangka isi oleh siswa.
Makna diciptakan melalui beberapa bentuk hubungan ekuivalen antara bahasa (simbol) dan konteks mental, yang melibatkan 2 proses
1) Resepsi, yang ditimbulkan melalui pembelajaran verbal yang bermakna.
2) Penemuan, yang terlibat dalam pembentukan konsep dan pemecahan masalah.
Karya-karya Ausubel sering dibandingkan dengan karya Bruner. Keduanya memiliki kemiripan pandangan tentang sifat hierarkis dari pengetahuan, tetapi Bruner lebih menekankan pada proses penemuan, sedangkan Ausubel lebih berfokus pada metode pembelajaran verbal dalam berbicara, membaca dan menulis. Ausubel juga berpendapat bahwa pembelajaran berdasarkan hafalan (rote learning) tidak banyak membantu siswa di dalam memperoleh pengetahuan, pembelajaran guru harus sedemikian rupa sehingga membangun pemahaman dalam struktur kognitifnya, pembelajaran haruslah bermakna (meaningfull learning) bagi siswa untuk menyelesaikan problem-problem kehidupan.

2.2.4. Teori Robert M. Gagne
Salah satu teori yang berasal dari psikolog kognitif adalah teori pemrosesan informasi yang dikemukakan oleh Robert M. Gagne. Menurut teori ini belajar dipandang sebagai proses pengolahan informasi dalam otak manusia. Sedangkan pengolahan otak manusia sendiri dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Reseptor (alat indera) : menerima rangsangan dari lingkungan dan mengubahnya menjadi rangsaangan neural, memberikan symbol informasi yang diterimanya dan kemudian di teruskan.
b. Sensory register (penempungan kesan-kesan sensoris) : yang terdapat pada syaraf pusat, fungsinya menampung kesan-kesan sensoris dan mengadakan seleksi sehingga terbentuk suatu kebulatan perceptual. Informasi yang masuk sebagian masuk ke dalam memori jangka pendek dan sebagian hilang dalam system.
c. Short term memory ( memory jangka pendek ) : menampung hasil pengolahan perseptual dan menyimpannya. Informasi tertentu disimpan untuk menentukan maknanya. Memori jangka pendek dikenal juga dengan informasi memori kerja, kapasitasnya sangat terbatas, waktu penyimpananya juga pendek. Informasi dalam memori ini dapat di transformasi dalam bentuk kode-kode dan selanjutnya diteruskan ke memori jangka panjang.
d. Long Term memory (memori jangka panjang) : menampung hasil pengolahan yang ada di memori jangka pendek. Informasi yang disimpan dalam jangka panjang, bertahan lama, dan siap untuk dipakai kapan saja.
e. Response generator (pencipta respon) : menampung informasi yang tersimpan dalam memori jangka panjang dan mengubahnya menjadi reaksi jawaban.
2.3. Sistem Pembelajaran Kognitif
Mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan mengembangkan kecakapan akademis lainnya bergantung pada sistem kognitif. Sistem kognitif mengandalkan input sensoris dan berfungsinya perhatian, pemrosesan informasi, dan beberapa subsistem memori secara memadai untuk mengonstruksi pengetahuan dan kecakapan. Yang juga penting, sistem kognitif berfungsi paling baik jika sistem-sistem lain emosional, sosial fisik, atau reklektif tidak bersaing menarik perhatian. Jika sistem-sistem cenderung bersaing dan bukan bekerja sama, maka pembelajaran secara drastis akan menurun.
Masih ada aspek penting lain agar sistem kognitif berfungsi efektif di kelas. Guru harus menunjukkan minat dan memahami dengan baik kandungan materi yang mereka ajarkan karena siswa dengan cepat menilai guru dan memutuskan apakah guru menguasai dan menikmati materi yang diharapkannya dipelajari anak-anak. Jika siswa merasa bahwa guru antusias terhadap materinya, antusiasme itu menular karena mendorong hasrat kuat untuk belajar dan meraih prestasi akademis. Guru harus memiliki minat besar materi yang mereka ajarkan dan menunjukkan niat yang jelas dan pengharapan yang tinggi bahwa anak-anak akan menyukai pelajarannya. Tentu saja, guru akan membangkitkan sikap serupa jika ia menunjukkan penerimaan dan penghargaan terhadap siswa berdasarkan kelebihan dan gaya belajar yang disukai masing-masing


2.4. Pandangan Teori Kognitivisme terhadap Belajar Mengajar dan Pembelajaran
Teori kognitif adalah teori yang umumnya dikaitkan dengan proses belajar. Kognisi adalah kemampuan psikis atau mental manusia yang berupa mengamati, melihat, menyangka, memperhatikan, menduga dan menilai. Dengan kata lain, kognisi menunjuk pada konsep tentang pengenalan. Teori kognitif menyatakan bahwa proses belajar terjadi karena ada variabel penghalang pada aspek-aspek kognisi seseorang. Teori belajar kognitiv lebih mementingkan proses belajar daripada hasil belajar itu sendiri. Belajar tidak sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respon, lebih dari itu belajar melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks. Belajar adalah perubahan persepsi dan pemahaman. Perubahan persepsi dan pemahaman tidak selalu berbentuk perubahan tingkah laku yang bisa diamati.
Dari beberapa teori belajar kognitif diatas (khusunya tiga di penjelasan awal) dapat pemakalah ambil sebuah sintesis bahwa masing masing teori memiliki kelebihan dan kelemahan jika diterapkan dalam dunia pendidikan juga pembelajaran. Jika keseluruhan teori diatas memiliki kesamaan yang sama-sama dalam ranah psikologi kognitif, maka disisi lain juga memiliki perbedaan jika diaplikasikan dalam proses pendidikan. Sebagai misal, Teori bermakna ausubel dan discovery Learningnya bruner memiliki sisi pembeda.Dari sudut pandang Teori belajar Bermakna Ausubel memandang bahwa justeru ada bahaya jika siswa yang kurang mahir dalam suatu hal mendapat penanganan dengan teori belajar discoveri, karena siswa cenderung diberi kebebasan untuk mengkonstruksi sendiri pemahaman tentang segala sesuatu. Oleh karenanya menurut teori belajar Bermakna guru tetap berfungsi sentral sebatas membantu mengkoordinasikan pengalaman-pengalaman yang hendak diterima oleh siswa namun tetap dengan koridor pembelajaran yang bermakna. Dari poin diatas dapat pemakalah ambil garis tengah bahwa beberapa teori belajar kognitif diatas, meskipun sama-sama mengedepankan proses berpikir, tidak serta merta dapat diaplikasikan pada konteks pembelajaran secara menyeluruh. Terlebih untuk menyesuaikan teori belajar kognitif ini dengan kompleksitas proses dan sistem pembelajaran sekarang maka harus benar-benar diperhatikan antara karakter masing-masing teori dan kemudian disesuakan dengan tingkatan pendidikan maupun karakteristik peserta didiknya.















BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Istilah “Cognitive” berasal dari kata cognition artinya adalah pengertian, mengerti. Pengertian yang luasnya cognition (kognisi) adalah perolehan, penataan, dan penggunaan pengetahuan. Adapun tokoh-tokoh Teori Belajar Psikologi Kognitif adalah Jean Pieget, Jerome Bruner dan Ausubel.
Teori belajar kognitif lebih mementingkan proses belajar daripada hasil belajar itu sendiri. Belajar tidak sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respon, lebih dari itu belajar melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks. Belajar adalah perubahan persepsi dan pemahaman. Perubahan persepsi dan pemahaman tidak selalu berbentuk perubahan tingkah laku yang bisa diamati.
















DAFTAR PUSTAKA

 Baharuddin. 2009. Pendidikan & Psikologi Perkembangan. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
 Nasution. 2005. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung : PT. Bumi Aksara.
 Suyono dan Hariyanto. 2001. Belajar dan Pembelajaran. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
 Syah, Muhibbin. 1999. Psikologi Belajar. Jakarta : Logos.
 Syah, Muhibbin. 1995. Psikologi Pendidikan : suatu pendekatan Baru. Bandung : Remaja Rosda Karya.
 Winfred, Hill.F. 1990. Theories of Learning. Bandung : Nusa Media.

0 komentar:

Poskan Komentar