Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry. Lorem Ipsum has been the industry's standard dummy text ever since the 1500s, when an unknown printer took a galley of type and scrambled it to make a type specimen book. It has survived not only five centuries, but also the leap into electronic typesetting, remaining essentially unchanged. It was popularised in the 1960s with the release of Letraset sheets containing Lorem Ipsum passages, and more recently with desktop publishing software like Aldus PageMaker including versions of Lorem Ipsum.

Minggu, 04 Desember 2011

MODEL PEMIKIRAN MENURUT IBNU KHOLDUN

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Biografi Ibnu Khaldun
Lahir di Thunisia pada tanggal 1 Ramadhan 732 H/ 27 Mei 1332 M. Beliau memiliki nama lengkap ‘Abd Al-Rahman ibn Muhammad ibn Muhammad ibn Al-Hasan ibn Jabir ibn Muhammad ibn Ibrahim ibn Khalid ibn Usman ibn Hani ibn Al-Khattab ibn Kuraib ibn Ma’dikarib ibn Al-Haris ibn Wail ibn Hujr. Sejarawan yang memiliki nama kecil ‘Abd Al-Rahman ini biasa dipanggil dengan nama keluarga (kunyah) Abu Zaid, yang diambil dari nama putra sulungnya, Zaid. Dia pun sering disebut dengan gelar (laqb) Wali al-din, sebuah gelar yang diberikan kepadanya sewaktu memangku jabatan Hakim Agung di Mesir. Akan tetapi, ia lebih popular dengan panggilan Ibnu Khaldun, yang dinisbatkan kepada nama kakeknya yang kesembilan, yaitu Khalid.
Kenapa Ibnu Khaldun menisbatkan nama dirinya kepada Khalid? Khalid ibn Usman adalah nama nenek moyangnya yang pertama kali memasuki Andalusia bersama para penakluk berkebangsaan Arab lainnya pada abad ke-8 M.
Ia menetap di Carmona, sebuah kota kecil yang terletak di antara segitiga Cordova, Sevilla, dan Granada. Dengan demikian, Carmona adalah kota pertama yang dijadikan tempat tinggal oleh nenek moyangnya setelah melakukan ekspansi ke Andalusia. Kemudian keturunan Khalid di Andalusia ini dikenal dengan sebutan Banu Khaldun yang melahirkan sejarawan besar ‘Abd Al-Rahman ibn Khaldun.
Keluarganya memiliki peranan yang cukup penting dalam bidang ilmu pengetahuan dan politik. Kemudian mereka melakukan migrasi ke Sevilla, bersamaan dengan gelombang penaklukan Islam di Semenanjung Andalusia. Namun akhirnya mereka pindah lagi ke Afrika Utara dikarenakan situasi politik yang mulai mengalami kekacauan, baik karena perpecahan di antara kaum Muslim maupun karena serangan pihak Kristen di Utara.
Ibn Khaldun pertama kali menerima pendidikan langsung dari ayahnya. Sejak kecil ia telah mempelajari tajwid, menghafal Al-Qur’an, dan fasih dalam qira’at sab’ah. Disamping dengan ayahnya ia juga mempelajari tafsir, hadits, Fiqh (Maliki), gramatika Bahasa Arab, ilmu mantiq, dan filsafat dengan sejumlah ulama Andalusia dan Tunisia. Pendidikan formalnya dilaluinya hanya sampai pada usia 17 tahun. Ia belajar Al-Qur’an berikut tafsirnya, fiqh, tasawuf ,dan filsafat. Dalam usia yang relatif muda ia telah mampu menguasai beberapa disiplin ilmu klasik, termasuk ‘ulum ‘aqliyah (ilmu-ilmu filsafat, tasawuf, dan metafisika). Di samping itu, beliau juga tertarik untuk mempelajari dan menggeluti ilmu politik, sejarah, ekonomi, geografi, dll. Setelah melewati usia 17 tahun, kemudian ia belajar sendiri (otodidak), meneruskan apa yang diperolehnya pada masa pendidikan formal sebelumnya, disamping memegang beberapa peranan penting kenegaraan seperti qadhi, diplomat, dan guru pada berbagai kesempatan.
Ketenaran Ibnu Khaldun dapat dilihat dari hasil karyanya yang monumental yaitu al-Muqaddimah. Kitab ini sesungguhnya merupakan pengantar bagi karya universalnya yang berjudul Kitab al-‘Ibar wa Diwan al Mubtada’ wa al-Khabar fi ayyami al-‘Arab wa al-‘Ajam wa al-Barbar wa man ‘Asarahun min Dzami as-Sulthan al- Akbar. Seluruh bangunan ilmunya dalam kitab al-Muqaddimah memaparkan tentang ilmu sosial, kebudayaan, dan sejarah. Sementara cakupan kitab al-‘Ibar merupakan bukti empiris-historis dari teori yang dikembangkannya. Orisinalitas dan kedalaman pemikirannya telah berhasil meletakkan karyanya al- Muqaddimah sebagai sebuah karya besar yang unik dan melampaui zamannya.
Peristiwa bersejarah yang punya arti khusus bagi Ibnu Khaldun ketika berada di Mesir adalah pertemuannya dengan Timur, yang oleh barat menyebutnya dengan Tamerlane (1336-1405 M). Pertemuan ini terjadi pada saat Timur hendak menaklukkan Mesir, setelah berhasil menaklukkan Damaskus, Syria, pada tahun 1400 M. Ibnu Khaldun ditugaskan oleh Sultan Nashir Faraj untuk mengepalai misi diplomasi dengan Timur yang sudah berada di Damaskus. Meskipun tampak sebagai seorang yang kejam dengan pedang di tangan, tapi menurut Ahmed, itu bukan berarti Timur tidak memiliki kepedulian dengan ulama agung pada masanya. Hal ini terbukti ketika ia bertemu dengan Ibnu Khaldun. Timur menyambut Ibnu Khaldun dan menerimanya dengan penuh kehormatan.
Ibnu Khaldun melakukan pembicaraan dengan Timur dengan sangat hati-hati dan mengerahkan segenap kemampuan seni diplomasinya. Pembicaraan yang terjadi pada tahun 1401 M ini menurut Mahdi, merupakan salah satu rekaman sejarah dunia yang sangat mengagumkan. Hal ini karena pembicaraan itu dilangsungkan oleh dua tokoh dunia yang sangat kontras. Yang satu adalah seorang ilmuwan dan satu lagi seorang penakluk dunia. Keduanya adalah produk dunia Islam abad ke-14 M yang masing-masing memiliki latar belakang yang berbeda.
Pertemuan dengan Timur selama 35 hari di Damaskus, Syria, merupakan peristiwa penting terakhir yang dialami Ibnu Khaldun dalam perjalanan hidupnya yang penuh ketegangan, penderitaan dan juga kesuksesan. Selain itu, pertemuan ini juga merupakan aktivitas politik terakhir yang dilakukan Ibnu Khaldun, sebab sekembalinya dari Syria ia melanjutkan profesinya sebagai Hakim Agung Madzhab Maliki hingga wafatnya. Ibnu Khaldun wafat pada 16 Maret 1406 M ( 26 Ramadhan 808 H) dalam usia 74 tahun di Mesir. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman para sufi di luar Bab Al- Nashir, Kairo).

2.2 Pemikiran Ibnu Khaldun tentang pendidikan Islam
Ibnu Kholdun telah lebih banyak melihat manusia dalam konteks interaksinya dengan kelompok-kelompok yang ada di masyarakat, sehingga termasuk salah satu pendidik Sosiologi dan Antropologi. Menurutnya manusia adalah makhluk yang berbeda dengan makhluk lainnya, manusia adalah makhluk yang berpikir. Karenanya manusia mampu melahirkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan kemampuan berpikirnya, manusia tidak hanya membuat kehidupannya, namun juga menaruh perhatian terhadap berbagi cara guna memperoleh makna hidup yang akhirnya mengeluarkan peradaban.
Dalam proses belajar atau menuntut ilmu manusia disamping harus sungguh-sungguh juga harus memiliki bakat. Dalam mencapai pengetahuan yang beraneka ragam, seseorang tidak hanya membutuhkan ketekunan, tetapi juga bakat. Dikuasainya suatu keahlian dalam bidang ilmu pengetahuan atau disiplin ilmu tertentu membutuhkan pengajaran.
Menurut Ibnu Kholdun, pertumbuhan pendidikan dan ilmu pengetahuan dipengaruhi oleh peradaban. Terjadinya peradaban lapisan sosial dalam masyarakat akibat dari hasil kecerdasan yang diproses melalui pengajaran. Ia tidak setuju dengan pendapat sebagian kalangan yang menyatakan terjadinya lapisan sosial lantaran perbedaan hakikat kemanusiaan. Ia membagi ilmu pengetahuan mejadi 3 kelompok yaitu :
a. Ilmu lisan (bahasa), yaitu ilmu tentang tata bahasa (grammatical) sastra atau bahasa yang tersusun secara puitis.
b. Ilmu naqli, yaitu ilmu yang diambil dari kitab suci dan sunah Nabi. Ilmu ini berupa membaca kitab suci al-Qur’an dan tafsirnya, sanad dan hadis pentashihannya secara istinbat tentang kaidah-kaidah fiqih.
c. Ilmu aqli, yaitu ilmu yang dapat menunjukkan manusia dengan daya pikir dan kecerdasannya kepada filsafat dan semua pengetahuan, termasuk dalam katagori ini adalah ilmu mantiq (logika) ilmu alam, ilmu ketuhanan, ilmu teknik, ilmu hitung, ilmu tingkah laku (psikology), ilmu sihir, dan ilmu nujum.
Ibnu Kholdun telah meletakkan prinsip-prinsip proses belajar mengajar sebagai suatu hal yang sangat mendasar dalam mengerjakan ilmu pengetahuan kepada siswa. Prinsip-prinsip tersebut secara garis besarnya meliputi beberapa hal sebagai berikut.
a. Adanya penahapan dan pengulangan secara berproses
Yang harus disesuaikan dengan kemampuan siswa dan tema-tema yang diajarkan secara bersamaan. Seorang guru hendaknya memberikan pemahaman secara bertahap mengenai masalah yang terdapat dalam setiap bab, tanpa memberikan keterangan yang rinci dan tanpa memberikan prioritas, tetapi dengan memperhatikan kemampuan dan daya serap siswa dari pemahaman yang diterimanya. Setelah itu, seorang guru harus memberikan penjelasan yang di sesuaikan dengan beberapa keterangan pada tema-tema pelajaran yang terkait.
Seorang guru hendaknya menjauhkan penjelasan yang bersifat umum dan global, dan tidak meninggalkan hal-hal yang sulit dipahami serta tidak menutup-nutupi, kecuali menjelaskan dan membuka hal-hal yang masih terkunci.

b. Tidak membebani pikiran siswa
Dalam masalah ini Ibnu Kholdun menyatakan, bahawa pemikiran manusia tumbuh dan berkembang secara berproses (bertahap). Dan hal ini akan mempengaruhi pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya. Ini akan kembali pada bagaimana dan sejauh mana perkembnagan dan kesuksesan tersebut berkembang secara positif dan negatif. Oleh karena itu, seorang guru hendaknya selalu mempersiapkan cara yang akan dipergunakan dan dikembangkan dalam proses memberikan pemahaman dan penerimaan ilmu secara bertahap, terutama ketika ia berusaha memberikan materi baru atau pengetahuan baru, yang tentunya akan memberikan beban tambahan dalam proses penerimaan pengetahuan dan materi lainnya.
Seorang guru hendaknya pula selalu menjelaskan tujuan dan target yang ingin di capai secara bertahap. Apabila tidak memperhatikan hal tersebut di atas maka tujuan yang ingin dicapai dalam proses belajar mengajar akan selalu berjalan di tempat (stagnan), melemahkan pemahaman dan konsentrasi, dan menjauhkan dari persiapan belajar mengajar yang seharusnya dilakukan. Dampaknya akan memberikan kesan bahwa ilmu itu terkesan sulit, dan akhirnya timbullah rasa malas pada diri siswa.

c. Tidak berpindah dari satu materi ke materi lain sebelum siswa memahaminya secara utuh.
Dalam hal ini, Ibnu Kholdun menegaskan bahwa dalam proses belajar mengajar seorang siswa merupakan objek, seorang guru tidak dianjurkan berpindah pada materi yang baru sebelum ia yakin bahwa siswanya telah paham terhadap materi pelajaran yang lalu. Hal tersebut ditandai dengan bertambahnya tingkat kemampuan yang dimiliki oleh seorang siswa dan daya kesiapan yang dimilikinya.
Dua hal inilah yang akan membentuk pemahaman yang dapat memberikan pemahaman yang dapat memberikan pengaruh terhadap kemampuan dan watak baru yang dapat mendukung prestasinya. Dikarenakan apabila seorang siswa telah memiliki kemampuan keilmuan, berarti ia telah siap menerima yang lainnya, dan untuk selanjutnya ia memiliki kreativitas untuk menambah dan meningkatkan apa yang dimilikinya sampai akhirnya ia benar-benar menguasai ilmunya. Namun, apabila pemahaman yang dimilikinya bercampur maka dapat melemahkan pemahaman yang dimilikinya tersebut dan dapat pula menciptakan kebodohan serta pembutaan pemikiran, yang akhirnya tidak memberikan hasil apapun dari proses belajar mengajar.

d. Lupa merupakan hal biasa dalam hal belajar
Lupa merupakan hal biasa dalam hal belajar, solusinya adalah dengan sering mengulang dan mempelajarinya kembali. Ibnu Kholdun dengan prinsip belajar mengajarnya, menghendaki agar seorang guru juga memperhatikan terhadap proses pendidikan potensi yang dimiliki seorang siswa. Pendidikan terhadap potensi pada individu menuntut agar siswa tersebut memiliki kemampuan untuk dapat memenuhi kebutuhannya.
Hal tersebut tentu membutuhkan proses waktu. Dan waktu pun berperan secara negatif terhadap memori seseorang. Namun hal negatif tersebut dapat di selesaikan dengan senantiasa mengulang kembali tanpa adanya pemisahan tempat dan memutuskannya, Karena hal ini akan mendatangkan sifat lupa dan sulit membentuk potensi. Apabila sejak awal proses belajar sampai akhirnya terdapat usaha dalam pikiran seseorang untuk menjauhkan sifat lupa, hal ini akan memudahkan baginya mendapatkan hasil kuat dan mendekatkannya kepada sebuah bentuk potensi diri.
Adapaun potensi pada diri individu akan terbentuk melalui proses perbuatan yang dilakukan secara terus menerus dan dengan melakukan pengulangan. Ibnu Kholdun juga melihat bahwa otak siswa bukanlah sebagai wadah yang harus dipenuhi oleh pengetahuan-pengetahuan yang dimiliki seorang guru, tetapi ia merupakan sebuah potensi yang dapat tumbuh dan berkembang secara siap dan menerima sesuatu secara berproses, dengan jalan pemahaman, dan usaha pemikiran melalui kreativitas otak. Bahkan potensi akal (otak) memiliki karakter selalu siap menerima pertumbuhan dan perkembangan.
Oleh karena itu, proses pendidikan harus selalu disesuaikan dengan sistem yang berkembang. Dan menurut Ibnu Kholdun, berbagai perbedaan dalam sistem pengajaran dan perbedaan waktu akan menentukan proses belajar mengajar dari satu tempat ke tempat yang lain, dan hal ini akan selalu kembali kepada pengetahuan itu sendiri dan sistem-sistemnya, serta prinsip yang dipergunakan dalam proses mengembangkan potensi dan pengembangan karakter, serta prinsip pendidikan yang dipergunakannya.

e. Tidak bertindak keras terhadap siswa
Menurut Ibnu Kholdun, tindakan keras atau kasar terhadap siswa dapat menyebabkan munculnya sikap rendah diri, dan mendorong seseorang memiliki perilaku dan kebiasaan buruk. Menurutnya, siapapun yang mendidik dengan proses kekerasan dan pemaksaan, baik kepada siswa, maupun pembantu atau budak maka pemaksaan yang ditunjukkannya akan mengakibatkan seseorang mempunyai sifat dusta dan buruk, sehingga membuat seseorang memiliki ruang gerak yang sempit. Sifat pemaksaan akan mendatangkan kemalasan, menciptakan siasat dusta, merugikan dan sering berdalih tanpa memperhitungkan dengan kata hati nuraninya. Hal tersebut dikarenakan perilakunya selalu di bawah tangan-tangan yang melakukan pemaksaan.
Selain itu menurut Ibnu Kholdun, kekerasan dapat menciptakan tipu daya dan penipuan sehingga dapat membentuk sebuah kebiasaan dan perilaku yang tidak baik.
Menurut Ibnu Khaldun, “ pendidikan atau ilmu dan mengajar merupakan suatu kemestian dalam membangun masyarakat manusia.” Pernyataan ini mengindikasikan bahwa maksud pendidikan menurut Ibnu Khaldun adalah mentransformasikan nilai-nilai yang diperoleh dari pengalaman untuk dapat mempertahankan eksistensi manusia dalam peradaban masyarakat. Pendidikan adalah upaya melestarikan dan mewariskan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat, agar masyarakat tersebut bisa tetap eksis. Inilah kiranya tujuan utama pendidikan menurut Ibnu Khaldun. Dalam konteks ini, Ibnu Khaldun telah memandang pendidikan sebagai bagian dari proses peradaban manusia.
Dalam memberikan pengajaran ( ta’lim) terdapat dua metode yang digunakan.
a. Al-qurb wa al-mulayanah ( kasih sayang dan lemah lembut).
Metode ini dianjurkan Ibnu Khaldun dalam ta’lim kepada peserta didik yang berada dalam taraf wildan dan menolak metode al-syiddah wa al ghilzab (kekerasan dan kekasaran).
Ibnu Khaldun menulis: “ Hukuman keras berupa tindakan fisik di dalam ta’lim itu berbahaya bagi muta’alim, terutama bagi ashaghir al-walad ( anak-anak kecil ). Alasan Ibnu Khaldun adalah bahwa siapa yang biasa dididik dengan kekerasan, ia akan dipengaruhi kekerasan itu. Selain itu, ia akan merasa sempit hati, kurang aktif bekerja, dan memiliki sifat pemalas, menyebabkan ia berdusta serta melakukan hal-hal buruk, karena takut akan dijangkau oleh tangan-tangan kejam. Hal ini selanjutnya akan membuat ia suka menipu dan berbohong. Sifat-sifat ini akan menjadi kebiasaan dan perangainya. Lebih parah lagi, hancurlah arti kemanusiaan yang ada pada dirinya.
b. Min ahsan madzahib al-ta’lim ( metode pengajaran terbaik )
Meskipun terhadap wildan Ibnu Khaldun menanjurkan metode al-qurb wa al-mulayanah, tetapi Ibnu Khaldun menekankan juga bahwa anak-anak jangan terlalu dididik dengan lemah lembut, terutama jika ia bersikap malas dan hidup santai. Apabila anak-anak memiliki sikap ini, bolehlah dilakukan tindakan yang sedikit keras dan kasar. Ibnu Khaldun dengan mengutip pendapat Harun Al-Rasyid menyebutkan: “ Jangan pula terlalu lemah lembut, bila umpamanya ia membiasakan hidup santai. Sebisa mungkin perbaiki dia dengan kasih sayang dan lemah lembut. Jika dia tidak mau dengan cara itu, anda harus menggunakan kekerasan dan kekasaran.”
Apa yang dikatakan Harun Al-Rasyid ini, menurut Ibnu Khaldun, merupakan di antara metode pengajaran terbaik (min ahsan madzahib al-ta’lim), yaitu bersikap moderat antara terlalu lemah lembut dan bertindak kasar dan keras.

c. Concentric method ( Pemusatan )
Metode ini dianjurkan untuk diberikan kepada peserta didik muta’alim yang memperhatikan kondisi peserta didik, baik psikis maupun fisik. Metode ini senantiasa memperhatikan pemberian pelajaran dari sesuatu sebagai gambaran umum, baru kemudian diterangkan hal-hal yang yang merupakan penjelasan atasnya. Di sini seorang pengajar “ harus memperhatikan kekuatan akal murid-muridnya dan kemampuannya untuk menerima sesuatu yang diberikannya.”
Dengan metode ini, Ibnu Khaldun mengkritik metode pengajaran yang dipakai pada zamannya, yang senantiasa memulai pelajaran dari yang bersifat ringkasan dan detail ( metode ringkasan atau ikhtisar al-turuq ), baru kemudian disampaikan materi yang mudah dan umum.
Sedangkan berkenaan dengan kurikulum pendidikan, Ibnu Khaldun membaginya menjadi tiga kategori. Pertama, kurikulum yang merupakan alat bantu pemahaman. Kurikulum ini mencakup ilmu bahasa, ilmu balaghah, ilmu nahwu, dan syair. Kedua, kurikulum sekunder, yaitu mata kuliah yang menjadi pendukung untuk memahami Islam. Kurikulum ini meliputi ilmu-ilmu hikmah falsafi, seperti logika, fisika, metafisika, dan matematika, yang tergolong dalam al- ‘ulum al- ‘aqliyah. Ketiga, kurikulum primer, yaitu mata kuliah yang menjadi inti ajaran Islam. Kurikulum ini meliputi semua bidang al- ‘ulum al-naqliyah, seperti ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu qira’at, ilmu ushul fiqh, dan fiqh, ilmu kalam, tasawuf, dan lain-lain.

2.3 Kontribusi Ibnu Khaldun terhadap Pendidikan Nasional
Menurut Ibnu Kholdun mengajarkan pengetahuan kepada anak didik akan berhasil apabila dilakukan dengan bertahap, setapak demi setapak dan sedikit demi sedikit. Pertama-tama ia harus diberi pelajaran mengenai hal-hal setiap cabang pembahasan yang dipelajarinya. Penjelasan yang diberikan harus secara umum dulu dengan memperhatikan kemampuan pikir anak dan kesanggupannya memahami apa yang diberikan kepadanya. Apabila pembahasan pokok telah dipahami, maka mereka baru memperoleh keahlian dalam cabang ilmu pengetahuan yang dimaksud dan itu berarti belum lengkap. Sedangkan hasil keseluruhan dapat dilihat dari pemahaman anak didik terhadap seluruh pembahasan beserta segala macam seluk-beluknya. Jika masih ada yang belum dikuasai oleh anak, maka harus diulangi kembali sampai dikuasai oleh anak dengan sebaik-baiknya.
Dalam mengajarkan ilmu pengetahuan kepada anak didik, Ibnu Kholdun menganjurkan kepada para guru agar mengajar dengan menggunakan metode pembelajaran yang baik dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Kesulitan yang dialami oleh anak dalam pembelajaran lantaran guru tidak menguasai ilmu jiwa anak. Seseorang yang diajar secara kasar, keras dan cacian akan mengakibatkan gangguan jiwa pada si anak. Anak-anak cenderung malas dan pendusta, murung dan tidak percaya diri serta berperangai buruk, mengemukakan sesuatu yang tidak sesuai dengan apa adanya karena ia takut. Oleh karena itu, Ibnu Kholdun menyarankan agar guru bersikap sopan dan halus kepada muridnya.
Ibnu Kholdun berpendapat, orang yang mendapat keahlian dalam bidang tertentu jarang sekali ahli pada bidang lainnya, misalnya tukang jahit. Hal ini lantaran sekali seseorang menjadi ahli hingga keahliannya itu tertanam berurat berakar di dalam jiwanya, sehingga ia tidak akan ahli lagi dalam bidang lainnya, kecuali keahlian yang pertama tadi belum tertanam kuat dan memberi corak pemikirannya. Alasannya karena keahlian merupakan sifat atau corak jiwa yang tidak dapat tumbuh serempak.

0 komentar:

Poskan Komentar